Semua buku seris mendung, hujan, dan pelangi
series ke 3 pelangi Rp 3,000

Setelah melewati hari-hari penuh keraguan dan perjuangan, Arun akhirnya sampai pada fase hidup yang lebih tenang. Hujan yang dulu menguji ketahanannya perlahan mereda, memberi ruang bagi cahaya untuk masuk. Usaha yang ia jalani dengan sabar mulai menunjukkan hasil, bukan sebagai kesuksesan besar yang instan, melainkan sebagai kemajuan kecil yang bermakna.Di tengah rutinitas yang kini lebih tertata, Arun belajar menerima proses dan berdamai dengan dirinya sendiri. Pelangi yang muncul di langit menjadi simbol perjalanan panjangnya—bahwa kebahagiaan tidak datang tanpa luka, dan cahaya hanya muncul setelah badai terlewati.Pelangi adalah kisah tentang keteguhan, penerimaan, dan kebahagiaan sederhana yang lahir dari keberanian untuk bertahan dan tidak menyerah.

series 2 Hujan Rp 3,000

Tidak semua perjalanan menuju mimpi dimulai dengan keyakinan.Sebagian justru lahir dari kebingungan, keraguan, dan hati yang terasa kosong.Arun memulainya di saat hidupnya seperti langit mendung—tidak sepenuhnya gelap, tetapi cukup berat untuk membuatnya diam terlalu lama.Ia belum tahu ke mana harus melangkah, hanya tahu bahwa bertahan tanpa mencoba bukan lagi pilihan.Dan ketika langkah pertama diambil, hujan pun turun.Hujan yang menguji, melelahkan, dan memaksanya bertanya berkali-kali: apakah semua ini sepadan?Ini bukan kisah tentang jalan yang mudah.Ini adalah cerita tentang seseorang yang belajar berjalan di tengah hujan, jatuh, bangkit, dan tetap melangkah—hingga suatu hari ia percaya bahwa setiap hujan selalu menyimpan kemungkinan akan hadirnya pelangi.

series 1 Mendung Rp 3,000

Tidak semua perubahan lahir dari keberanian yang besar.Sebagian justru muncul dari diam yang panjang, dari ragu yang dipendam terlalu lama, dari hati yang lelah namun belum menyerah.Kisah ini dimulai bukan pada saat seseorang berhasil,melainkan pada saat ia berani mengakui bahwa ia ingin berubah.Di bawah langit yang sering tertutup mendung, ada seseorang yang tampak biasa—tidak menonjol, tidak juga istimewa. Ia tidak sedang berlari mengejar mimpi, bahkan belum melangkah. Ia hanya berdiri di antara takut dan harap, menunggu waktu yang entah kapan akan terasa tepat.Mendung bukan hanya tentang cuaca.Ia adalah tentang pikiran yang penuh tanya, tentang langkah yang tertahan, dan tentang keberanian kecil yang sering luput dihargai.Inilah awal perjalanan Arun sebuah cerita tentang keraguan, tentang titik mula, dan tentang satu keputusan sederhana yang kelak mengubah arah hidupnya.

Keinginan sebelum pergi Rp 5,000

Tidak semua orang diberi waktu yang panjang untuk hidup.Namun, sebagian diberi waktu yang cukup… untuk memberi makna.Ryu, seorang remaja berusia 15 tahun, harus menerima kenyataan pahit bahwa hidupnya perlahan direnggut oleh penyakit leukemia. Di saat teman-teman seusianya sibuk mengejar mimpi, Ryu justru menulis daftar sederhana tentang hal-hal kecil yang ingin ia lakukan sebelum pergi.Sebuah buku tipis berjudul “Keinginan Sebelum Aku Pergi” menjadi saksi perjuangannya. Bukan tentang kemewahan, bukan pula tentang keajaiban. Hanya tawa, kebersamaan, dan kenangan—yang ingin ia tinggalkan untuk orang-orang terdekatnya.Ditemani sahabat setianya, Kei, Ryu menjalani hari-hari terakhirnya bukan dengan tangisan, melainkan dengan keberanian untuk tetap tersenyum.Ini bukan cerita tentang kematian.Ini adalah cerita tentang cara hidup, meski waktu terus menipis.

The Rise of the Forsaken God [ Fantasi ] Rp 5,000

The Rise of the Forsaken GodThe bus rattled along the road, filled with chatter and laughter from students on their way to a study tour. Among them sat a boy who rarely spoke, his presence often overlooked by the others. His name was Renji Akihara, the quiet and timid one everyone thought of as the class nerd.The atmosphere inside the bus was calm until Kaito Shimizu, a mischievous boy with a smug grin, leaned over to tease a girl named Ai.Renji noticed it. His chest tightened, but he gathered what little courage he had.“Hey, Kaito… stop bothering Ai,” he muttered.Kaito turned, smirking. “Hah? You trying to play the cool guy now? Don’t act like a hero, Renji. You’re the lamest one here.”The words stung. Renji froze, unable to reply. That was when another voice cut through the tension. Ryu, the class’s golden boy handsome,smart, and admired by everyone spoke up.“Kaito, quit it. You’re ruining the mood on this bus.”The whole class turned to look. Ryu crossed his arms, his calm presence commanding attention. But then, with a playful smirk, he added, “And Renji… nice try. But if you’re going to stand up for someone, at least do it properly.”Laughter filled the bus. Renji’s cheeks burned with shame, his head lowering under the weight of their ridicule.But in the very next moment everything changed.Their vision blurred. The world around them dissolved into blinding white light. When it cleared, they were no longer on the bus. 

Install Bunyy ke Home ScreenDapatkan notifikasi ketika ada cerita baru.

Caranya:

1. Klik tombol Share di bagian bawah

2. Klik Add to Home Screen