Rp 10,000
Angin sore menyusup pelan ke sela-sela jendela yang setengah terbuka. Di luar, langit mengguratkan warna-warna lembut yang biasa ia kenal sejak kecil, senja, cahaya jingga yang sudah akrab sebagai temannya.
Kalaluna duduk diam, kedua tangannya menggenggam cangkir teh yang mulai kehilangan hangatnya. Tak ada yang istimewa dari hari itu. Tidak juga dari sore itu. Tapi entah mengapa, udara terasa lebih berat dari biasanya.
Ada sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, tapi jelas terasa. Seperti kehilangan yang datang sebelum perpisahan, atau rindu yang muncul sebelum benar-benar jatuh cinta.
Ia menoleh ke lukisan setengah jadi di sudut ruangan. Guratan-guratannya belum rampung, warnanya belum hidup. Tapi di sana, sudah ada satu hal yang utuh, sepasang mata cokelat yang terlalu dalam untuk diabaikan.
Dan untuk pertama kalinya, Kalaluna sadar... mungkin beberapa perasaan memang tidak untuk dimenangkan, tidak semua cinta berakhir bersama, terkadang hanya tersisa luka untuk diterima.
Masih ada 1 file dan 1738 kata yang terkunci