Rp 30,000
Cerpen
Bangku yang Tak Pernah Kosong
Bangku kayu di pojok taman sekolah itu sudah kusam. Cat terkelupas, sudutnya tak lagi kokoh, dan besinya berderit setiap kali diduduki. Banyak siswa memilih bangku lain yang lebih baru, tapi bagi kami—aku, Arga, Bimo, dan Sinta—bangku itu adalah rumah kedua.
Kami bertemu bukan karena kesamaan. Justru karena perbedaan.